Dulu saya selalu terheran-heran, kenapa sih teman saya
banyak sekali yang suka nonton serial korea? Sekarang sepertinya saya mulai
tahu jawabannya :D
Sebenarnya ini bukan serial korea
pertama yang saya tonton, sebelum ini saya pernah nonton “my little bride” sama
1 film lagi saya lupa judulnya. Tapi
dua film itu tidak terlalu berkesan di hati saya, hehe. Sampai baru-baru ini
saya dipinjamkan DVD Love Story in Harvard oleh teman saya, sebuah film yang
tayang sekitar tahun 2004. Saya lihat ada 4 keping DVD dalam bungkusnya. Dalam hati “aaah
banyak bangeet”. Tapi saya mengiyakan untuk dipinjamkan karena sangat tertarik
dengan judulnya yang menyertakan nama salah satu kampus terbaik di dunia itu..
Daaaan, sekitar 5 hari saya
habiskan untuk menyelesaikan film ini, hahahaha. Abis, 1 keping DVD isinya ada
4 episode, 1 episodenya 1 jam -.- dan gak mungkin dong seharian kerjaan saya
nonton dvd doang, hehehe.
Di tulisan ini sih saya gak mau ceritain
gimana detail kisah di film itu, kalau mau tauu nonton sendiriii aja karena gak
akan puas kalau Cuma diceritain :) di sini saya mau sharing insight atau pelajaran-pelajaran hidup yang bisa saya
ambil di sini :)
~ untuk bertahan kuliah di luar negeri apalagi kampus sebagus Harvard itu
bukan sesuatu yang mudah
Dalam kisah ini diceritakan
bagaimana mahasiswa-mahasiswa Harvard even yang asli anak2 Amerikanya pun harus
berusaha setengah mati untuk bisa mengikuti pelajaran di Harvard. Begadang,
baca buku setebel-tebel bantal, sampai muntah-muntah, teriak-teriak tengah
malam, masuk RS karena stress dan dehidrasi, hehe entahlah berlebihan atau gak,
saya belum pernah ke Harvard :P. Kim Hyun Woo sebagai tokoh utama dalam film
ini, kuliah di jurusan Hukum, kerjaannya di perpustakaan muluu sampai tengah
malem dan saat pulang pun masih belajar untuk siap menghadapi kelas salah satu
professor terbaik mereka: John H Keynes. Di sini diceritakan bagaimana Hyun Woo
harus bekerja keras supaya bisa mengerti bahan kuliah dan berani berbicara dan
meminta haknya karena Keynes agak mendiskriminasikan Hyun Woo saat kuliah. Tapi
itu sebenarnya sengaja dilakukan oleh Keynes untuk menguji kekritisan
mahasiswanya. Berkat kerja keras, ketidak putus asaan, dan berusaha untuk
selalu beradaptasi dengan baik di lingkungannya, Hyun Woo menjadi lulusan
terbaik di angkatannya J
oya, satu hal sih yang memang tergambar dalam film ini, betapa mahasiwa Asia
cukup culture shock melihat betapa bebasnya pergaulan di Amerika. Hahahaha. Makanya
saya selalu berpikir jika ingin berada di luar negeri dalam waktu yang cukup
lama suatu hari nanti, saya harus sudah menikah. Itu akan jauh lebih
menenangkan dan menyenangkan. Apalagi kalau luar negerinya itu macam London
atau Paris, klasik dan romantic paraah. Hahaha, STOP IT.
~ cinta tanah air
Kenapa Hyun woo semangat sekali
untuk bisa menjadi yang terbaik di kelasnya? Karena dia cinta tanah airnya:
korea. Dia ingin membuktikkan kalau negaranya itu hebat dan mampu bersaing
dengan negara lain. Hyun Woo bilang ada bendera Korea di dadanya, jadi dia gak
akan mudah menyerah, woooow.. semoga mahasiswa Indonesia juga pada kayak gitu
ya, mau membuktikkan bahwa Indonesia itu bangsa yang patut diperhitungkan, dan
mau mendedikasikan ilmunya untuk kemajuan tanah airnya :)
~ selalu mendedikasikan diri untuk membela orang yang ada dalam
kesulitan dan kemiskinan
Di film ini, dua orang tokoh
utamanya yakni Hyun Woo dan Soo In digambarkan sebagai orang yang sangat sangat
mau berkontribusi bagi kaum lemah. Hyun Woo sebagai calon (dan kemudian jadi)
pengacara sejak kuliah sudah mau membela seorang warga kulit hitam yang
mendapat tindakan diskriminasi ras. Keberpihakan Hyun Woo terhadap kaum marjinal
dan tereksklusi berlanjut hingga ia benar-benar menjadi pengacara. Ia sampai
harus bertaruh nyawa untuk bisa membantu memenangkan kasus yang dialami oleh
penduduk di salah satu kawasan industri di Korea yang terkena dampak limbah
sebuah perusahaan MNC asal Amerika. Hyun Woo juga pernah menjadi volunterr saat
masih kuliah, dia membantu seorang penderita HIV AIDS yang sudah sekarat. Walau
sebagian besar motivasi kenapa dia membantu adalah karena Soo In, wanita yang
mulai ia sukai juga menjadi volunteer saat masih kuliah. Soo in ini adalah
seorang mahasiswa kedokteran di Harvard. Cantik banget, sangat pintar, dan
disebut berhati malaikat. Dia mahasiswa miskin yang di sela-sela padatnya kuliah
harus kerja part time untuk bisa bertahan hidup bersama ayahnya di Amerika. Soo
In: Belajar, membantu banyak orang, sambil part time. Tangguh banget laaah
pokoknya.
~ selalu tersenyum
Ini, agak aneh sih. Hehe, tapi saya menangkap
Soo In ini kenapa bisa selalu terlihat cantik karena dia senyuuuum terus. Mau susah
sedih senang. Dan memang, saat sendiri kita bebas menentukan mau seperti apa
ekspresi yang kita punya. Tapi saat bertemu orang lain, kita harus sebisa
mungkin membuat orang lain nyaman dan senang berinteraksi dengan kita. Jangan malah
membuat orang lain tidak nyaman karena kegusaran yang sedang kita alami. :)
~ kalau kita tulus, orang yang tidak suka pada kita pun akan merubah
pikirannya
Ini juga pelajaran penting yang
saya dapat. Sulit diceritakan di bagian mana dari film ini tapi sungguh jelas
terasa. Jadi, biarlah andai kata di dunia ini ada orang yang tidak suka atau
meremehkan kita. Lakukan saja yang terbaik dengan tulus, maka orang itu akan
mengubah pikirannya sendiri tanpa kita minta..
~ untuk bisa bersama dengan orang yang tepat itu butuh perjuangan
Haha walau saya gak mau
menonjolkan sisi cinta-cintaan dalam film ini, tetep aja harus diceritain,
malah aneh orang judulnya aja udah love story :P. Iyaaah, jadi pemirsa, di film
ini diceritakan bagaimana Hyun Woo dan Soo In sangat suliiit untuk bersama
akibat kesalahpahaman, tidak mau saling menyakiti satu sama lain, tidak mau
jadi beban, penyakit leukemia, tidak direstui orang tua, daan batu terjalan
lainnya. But finally they got married J
duhh apa ya yang mau dibahas, hehe.. entah sih ya, saya salut aja, dan
kepikiran, ada beneran gak yah laki-laki kayak Hyun Woo, hahahaha. Yang se so
sweet itu ucapan-ucapannya, dan se rela berkorban itu. Ah, sudahlah..
Ohya, sebenarnya ada 1 laki-laki
lagi namanya Hong Jung Min, teman sekelas Hyun Woo yang juga sangat mencintai
Soo In. Hyun Woo dan Hong Jung Min kerjaannya saingaaan mulu, ya pinter-pinteran
di kelas, ya berebutan Soo In, ya berkompetisi di sebuah kasus, dll. Tapi di
ending, Hong Jung Min akhirnya bisa menerima bahwa memang bersama Soo In
bukanlah takdirnya, walau dia sudah sebaik itu sama Soo In. Hyun Woo dan Hong
Jung Min malah terlihat sangat akrab di ending, jadi semacam sahabat yang sudah
sangat saling mengenal satu sama lain. Sweet banget lah pokoknya :D. selain dua
orang musuh yang di ending jadi sahabat itu, masih banyak sekali scene-scene
sweet lainnya, saat mereka minta restu menikah sama orang tuanya, saat anak
kecil yang dibunuh bapaknya sangat sayang sama Soo In, saat orang yang ditolong Soo In saat terkena serangan jantung ternyata bisa selamat, saat Hyun Woo sudah gak
bisa berkata-kata dan Cuma bisa nulis apa yang mau dia sampaikan di kaca bus
yang berembun, salah satu kalimat yang ditulis di kaca bus itu adalah: “My
angel.. Fly high and Far.. If you need a rest, comeback to me soon, i love you..”
hahahha, karena filmnya se so sweet ini, jadi film ini nampaknya hanya baik
bagi orang-orang yang gak gampang galau, ambil sisi postitif lainnya aja :D
Ya sekian. Intinya sih, selalu
ada hal-hal positif yang bisa kita ambil dari hal-hal di sekita kita. Dan film
ini membuat saya lebih semangat untuk melakukan semua yang saya bisa untuk
mencapai hasil terbaik, untuk lebih sadar bahwa bisa membantu orang lain itu
sungguh menyenangkan, dan tapi tersadar pula bahwa semua yang indah-indah itu
harus dicapai dengan perjuangan. Sooo, just give ur best and let’s He do the
Rest. Wassalam J
Sumber Gambar:






.jpg)





