Minggu, 15 April 2012

Serial “Love Story In Harvard”: Bukan Sekedar Cinta-cintaan




Dulu saya selalu terheran-heran, kenapa sih teman saya banyak sekali yang suka nonton serial korea? Sekarang sepertinya saya mulai tahu jawabannya :D

Sebenarnya ini bukan serial korea pertama yang saya tonton, sebelum ini saya pernah nonton “my little bride” sama 1 film lagi saya lupa judulnya. Tapi dua film itu tidak terlalu berkesan di hati saya, hehe. Sampai baru-baru ini saya dipinjamkan DVD Love Story in Harvard oleh teman saya, sebuah film yang tayang sekitar tahun 2004.  Saya lihat ada 4 keping DVD dalam bungkusnya. Dalam hati “aaah banyak bangeet”. Tapi saya mengiyakan untuk dipinjamkan karena sangat tertarik dengan judulnya yang menyertakan nama salah satu kampus terbaik di dunia itu..
Daaaan, sekitar 5 hari saya habiskan untuk menyelesaikan film ini, hahahaha. Abis, 1 keping DVD isinya ada 4 episode, 1 episodenya 1 jam -.- dan gak mungkin dong seharian kerjaan saya nonton dvd doang, hehehe.

Di tulisan ini sih saya gak mau ceritain gimana detail kisah di film itu, kalau mau tauu nonton sendiriii aja karena gak akan puas kalau Cuma diceritain :) di sini saya mau sharing insight atau pelajaran-pelajaran hidup yang bisa saya ambil di sini :)

~ untuk bertahan kuliah di luar negeri apalagi kampus sebagus Harvard itu bukan sesuatu yang mudah
Dalam kisah ini diceritakan bagaimana mahasiswa-mahasiswa Harvard even yang asli anak2 Amerikanya pun harus berusaha setengah mati untuk bisa mengikuti pelajaran di Harvard. Begadang, baca buku setebel-tebel bantal, sampai muntah-muntah, teriak-teriak tengah malam, masuk RS karena stress dan dehidrasi, hehe entahlah berlebihan atau gak, saya belum pernah ke Harvard :P. Kim Hyun Woo sebagai tokoh utama dalam film ini, kuliah di jurusan Hukum, kerjaannya di perpustakaan muluu sampai tengah malem dan saat pulang pun masih belajar untuk siap menghadapi kelas salah satu professor terbaik mereka: John H Keynes. Di sini diceritakan bagaimana Hyun Woo harus bekerja keras supaya bisa mengerti bahan kuliah dan berani berbicara dan meminta haknya karena Keynes agak mendiskriminasikan Hyun Woo saat kuliah. Tapi itu sebenarnya sengaja dilakukan oleh Keynes untuk menguji kekritisan mahasiswanya. Berkat kerja keras, ketidak putus asaan, dan berusaha untuk selalu beradaptasi dengan baik di lingkungannya, Hyun Woo menjadi lulusan terbaik di angkatannya J oya, satu hal sih yang memang tergambar dalam film ini, betapa mahasiwa Asia cukup culture shock melihat betapa bebasnya pergaulan di Amerika. Hahahaha. Makanya saya selalu berpikir jika ingin berada di luar negeri dalam waktu yang cukup lama suatu hari nanti, saya harus sudah menikah. Itu akan jauh lebih menenangkan dan menyenangkan. Apalagi kalau luar negerinya itu macam London atau Paris, klasik dan romantic paraah. Hahaha, STOP IT.

~ cinta tanah air
Kenapa Hyun woo semangat sekali untuk bisa menjadi yang terbaik di kelasnya? Karena dia cinta tanah airnya: korea. Dia ingin membuktikkan kalau negaranya itu hebat dan mampu bersaing dengan negara lain. Hyun Woo bilang ada bendera Korea di dadanya, jadi dia gak akan mudah menyerah, woooow.. semoga mahasiswa Indonesia juga pada kayak gitu ya, mau membuktikkan bahwa Indonesia itu bangsa yang patut diperhitungkan, dan mau mendedikasikan ilmunya untuk kemajuan tanah airnya :)

~ selalu mendedikasikan diri untuk membela orang yang ada dalam kesulitan dan kemiskinan
Di film ini, dua orang tokoh utamanya yakni Hyun Woo dan Soo In digambarkan sebagai orang yang sangat sangat mau berkontribusi bagi kaum lemah. Hyun Woo sebagai calon (dan kemudian jadi) pengacara sejak kuliah sudah mau membela seorang warga kulit hitam yang mendapat tindakan diskriminasi ras. Keberpihakan Hyun Woo terhadap kaum marjinal dan tereksklusi berlanjut hingga ia benar-benar menjadi pengacara. Ia sampai harus bertaruh nyawa untuk bisa membantu memenangkan kasus yang dialami oleh penduduk di salah satu kawasan industri di Korea yang terkena dampak limbah sebuah perusahaan MNC asal Amerika. Hyun Woo juga pernah menjadi volunterr saat masih kuliah, dia membantu seorang penderita HIV AIDS yang sudah sekarat. Walau sebagian besar motivasi kenapa dia membantu adalah karena Soo In, wanita yang mulai ia sukai juga menjadi volunteer saat masih kuliah. Soo in ini adalah seorang mahasiswa kedokteran di Harvard. Cantik banget, sangat pintar, dan disebut berhati malaikat. Dia mahasiswa miskin yang di sela-sela padatnya kuliah harus kerja part time untuk bisa bertahan hidup bersama ayahnya di Amerika. Soo In: Belajar, membantu banyak orang, sambil part time. Tangguh banget laaah pokoknya.

~ selalu tersenyum
 Ini, agak aneh sih. Hehe, tapi saya menangkap Soo In ini kenapa bisa selalu terlihat cantik karena dia senyuuuum terus. Mau susah sedih senang. Dan memang, saat sendiri kita bebas menentukan mau seperti apa ekspresi yang kita punya. Tapi saat bertemu orang lain, kita harus sebisa mungkin membuat orang lain nyaman dan senang berinteraksi dengan kita. Jangan malah membuat orang lain tidak nyaman karena kegusaran yang sedang kita alami. :)

~ kalau kita tulus, orang yang tidak suka pada kita pun akan merubah pikirannya
Ini juga pelajaran penting yang saya dapat. Sulit diceritakan di bagian mana dari film ini tapi sungguh jelas terasa. Jadi, biarlah andai kata di dunia ini ada orang yang tidak suka atau meremehkan kita. Lakukan saja yang terbaik dengan tulus, maka orang itu akan mengubah pikirannya sendiri tanpa kita minta..

~ untuk bisa bersama dengan orang yang tepat itu butuh perjuangan
Haha walau saya gak mau menonjolkan sisi cinta-cintaan dalam film ini, tetep aja harus diceritain, malah aneh orang judulnya aja udah love story :P. Iyaaah, jadi pemirsa, di film ini diceritakan bagaimana Hyun Woo dan Soo In sangat suliiit untuk bersama akibat kesalahpahaman, tidak mau saling menyakiti satu sama lain, tidak mau jadi beban, penyakit leukemia, tidak direstui orang tua, daan batu terjalan lainnya. But finally they got married J duhh apa ya yang mau dibahas, hehe.. entah sih ya, saya salut aja, dan kepikiran, ada beneran gak yah laki-laki kayak Hyun Woo, hahahaha. Yang se so sweet itu ucapan-ucapannya, dan se rela berkorban itu. Ah, sudahlah..
Ohya, sebenarnya ada 1 laki-laki lagi namanya Hong Jung Min, teman sekelas Hyun Woo yang juga sangat mencintai Soo In. Hyun Woo dan Hong Jung Min kerjaannya saingaaan mulu, ya pinter-pinteran di kelas, ya berebutan Soo In, ya berkompetisi di sebuah kasus, dll. Tapi di ending, Hong Jung Min akhirnya bisa menerima bahwa memang bersama Soo In bukanlah takdirnya, walau dia sudah sebaik itu sama Soo In. Hyun Woo dan Hong Jung Min malah terlihat sangat akrab di ending, jadi semacam sahabat yang sudah sangat saling mengenal satu sama lain. Sweet banget lah pokoknya :D. selain dua orang musuh yang di ending jadi sahabat itu, masih banyak sekali scene-scene sweet lainnya, saat mereka minta restu menikah sama orang tuanya, saat anak kecil yang dibunuh bapaknya sangat sayang sama Soo In, saat orang yang ditolong Soo In saat terkena serangan jantung ternyata bisa selamat, saat Hyun Woo sudah gak bisa berkata-kata dan Cuma bisa nulis apa yang mau dia sampaikan di kaca bus yang berembun, salah satu kalimat yang ditulis di kaca bus itu adalah: “My angel.. Fly high and Far.. If you need a rest, comeback to me soon, i love you..” hahahha, karena filmnya se so sweet ini, jadi film ini nampaknya hanya baik bagi orang-orang yang gak gampang galau, ambil sisi postitif lainnya aja :D

Ya sekian. Intinya sih, selalu ada hal-hal positif yang bisa kita ambil dari hal-hal di sekita kita. Dan film ini membuat saya lebih semangat untuk melakukan semua yang saya bisa untuk mencapai hasil terbaik, untuk lebih sadar bahwa bisa membantu orang lain itu sungguh menyenangkan, dan tapi tersadar pula bahwa semua yang indah-indah itu harus dicapai dengan perjuangan. Sooo, just give ur best and let’s He do the Rest. Wassalam J

Sumber Gambar:

Minggu, 18 Maret 2012

London, Please Tell Me That I am Not Dreaming :) #2


Masih malam pertama di London.
Sekitar pukul 01.00 dini hari.
Entah apa yang menyebabkan saya terbangun dan sulit tidur kembali. Ternyata apa yang dibilang mas sahrul benar-benar terjadi. Seingat saya monic juga terbangun di malam dini hari itu. Entahlah kalau teman-teman lain..

Adzan subuh di London, katanya sekitar pukul setengah 6 pagi hampir jam 6 pagi. Dan tentu tidak ada suara adzan yang terdengar dari wisma ini. Agak aneh juga sih rasanya baru sholat subuh sekitar jam 6 pagi, kalau kesiangan bisa setengah 7 juga dan yaa masih masuk waktu subuh kaan, hehe. Kalau di Indonesia mah itu udah mau masuk sholat dhuha.. hehe

Hari pertama di London kami habiskan seharian di dalam rumah untuk mempersiapkan lomba yang akan dimulai besok hari. Diskusi-diskusi panjang, muter-muter, membuat konsep mulai dari yang ga jelas, ga realistis, ga sustain, dll sudah pernah tercetus. Kalau tidak salah ingat sampai besok pagi menjelang siang masih kami teruskan diskusi-diskusi yang nampaknya tidak akan habis-habisnya sampai waktu yang menyadarkan kami bahwa diskusi tersebut harus diselesaikan karena kami harus bersiap berangkat ke venue kompetisi: Kampus Hult International Business School. Di daerah Holborn, Russel Square.

Kampus Hult layaknya kampus-kampus lain di London hanya berdiri di atas gedung-gedung standar yang berjejer layaknya ruko atau perkantoran di Jakarta namun dengan desain yang lebih klasik dan indah dan teratur. Hehe. Sungguh berbeda dengan kebanyakan kampus-kampus terutama kampus negeri di Indonesia yang terdiri dari sebuah kawasan terpadu sehingga terlihat sangat luas.

Kesan simpatik kami dapatkan dari setiap orang yang mendengar bahwa kami berasal dari sebuah negara di kawasan Asia Tenggara dan telah menempuh kurang lebih 29 jam untuk menuju London. Hari jumat ini di isi dengan pembukaan lomba dan sambutan dari panitia, penjelasan mengenai HFHI, training teknik presentasi, daaan welcoming mixer.


Welcoming mixer ini dilaksanakan di sebuah bar. Hehe. 


Tapi ga seburuk yang dibayangkan kok, itu jadinya kayak aula cukup besar yang terdiri dari meja-meja yang berisi makanan dan minuman. Kami berlima tidak terlalu lama di sana, mungkin hanya sekitar 1 jam karena tidak ada makanan manusiawi bagi kami yang bisa membuat kami kenyang di sana. 
Yah, ngobrol dan mendapat beberapa kartu nama dari mahasiswa-mahasiswa S2 S3 dari beberapa penjuru dunia itu sudah lumayan. Kami harus segera pulang mencari makanan dan istirahat karena besok justru akan menjadi hari terpenting dari kompetisi ini…
--------------------------------------------------------------


Kami menginap di sebuah kos-kosan mewah atau mungkin semi apartemen yang sangat cozy milik Rizky, seorang mahasiswa S2 jurusan social entrepreneurship di Hult International Business School, lulusan SBM ITB. KataRizky, kalau dia pulang ke Indonesia kemungkinan besar dia akan menjadi master pertama jurusan social entrepreneurship. 
Dan saya ngileeer banget mendengar hal itu…
Mas rizky dengan segala kebaikan hatinya mengizinkan kami memakai dan mengonsumsi apapun yang ada di rumahnya. Dan mpek-mpek plus indomie menjadi makan malam kami saat itu..
--------------------------------------------------------------


Besok paginya kami menjelma layaknya manajer muda perusahaan multinasional yang cantik dan tampan. Dan kami tidak mau terlambat. 
Demi itu, kami mebembus pagi kota London yang masih dalam transisi musim dingin ke musim semi. Tapi teteup ga lupa foto-foto J (tapi karena pake coat dll jadi ga kelihatan baju rapihnya ya, hehe)
maap agak ngeblur

Di chancery court hotel, tempat kami akan melaksanakan lomba, semua orang berjalan hilir mudik, entah kenapa kebanyakan ke toilet. Lalu kami semua dikumpulkan di sebuah ballroom besar. 54 tim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di sini.
Yah, kami siap untuk berlomba.

5 jam kami lewati dengan berbicara bahasa Indonesia. Menyenangkan sekali ketika berada 1 ruangan bersama saingan kami dan kami bisa berbicara dalam bahasa yang tidak mereka mengerti sedangkan kami bisa sedikit banyak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hehehe
Bagian presentasi dan hasil dari lomba kami agak malas saya ceritakan kembali karena sudah ada di press release dan beberapa media online atau cetak, hehehe :P
Kapan-kapan saya posting press release kami aja deh yaa, maap :D

Tapi yang penting dari hari ini adalah:
1)      Saya kelaparan walau disediakan makanan (semoga pembaca mengerti kenapa)
2)     Saya pegal pakai heels walau Cuma 5 cm (Cuma ga sih) selama kurang lebih 12 jam
3)     Saya takuuut sama tradisi peluk dan cipika cipiki laki-laki dan perempuan di sana (Alhamdulillah Allah masih menjaga saya) huhu T.T Salah satu insiden yg nyeremin adalah ketika mau ngucapin makasih sama juri laki-laki, dan dia ngajak cipika cipiki dong, untung saya ada di urutan kedua untuk bersalaman si juri itu, tanpa pikir panjang langsung lah saya ke belakang antrian dengan muka tegang. Akhirnya memutuskan untuk ga usah salaman sama sekali sama si juri, mau nolak juga takut sih.. L
Tapi akhirnya bisa nimbrung diobrolan tanpa harus salaman, hehe,

-------------------------------------------------------------


Malam kedua lomba ini kami tidak menginap lagi di kos-kosan mewah Rizky, melainkan kami mulai dengan “membakar” sekitar 500 ribu rupiah untuk naik taxi ke wisma siswa merdeka yang padahal Cuma butuh 30 menit untuk sampai. 
Yeah, beginilah kalau singgah di kota dengan mata uang termahal di dunia.. kata-kata ikhlas harus selalu di tempel di jidat biar ga lupa kalau lagi esmosi tiap kali ngeluarin uang di London..

Sampai kamar wisma sudah ga ada daya, tidur sampai besok paginya, lanjut sampai agak siang, makan, tidur lagi.. dan baru menjelang senja kami keluar rumah.
Yeaah, sesi jalan-jalan gembira di London segera di mulai. Para pembaca yang mulai kebosanan harap semangat dan mempersiapkan diri untuk membaca postingan selanjutnya :D
dan sesi jalan2 menjelang senja terangkum dalam foto-foto dibawah ini :D


senjanya ungu ungu cantik gituuu masaa



ga bisa nahan mau ketawa, abis kayak lagi bikin video klip :P



Ara berlatarkan peta rute tube London 



Beli oyster, buat seminggu sampe zona 2 buat "bekal" jalan-jalan seminggu ke depan


Terimakasih yaa buat yang menyempatkan membaca tulisan yang mungkin bisa lebih berkualitas kalo ditulis oleh orang yang benar, right words from the right person gitu.. hehe
semoga postingan ini membuat kalian tidak akan pernah lagi merasa ragu bahwa, Tuhan itu sungguh Maha Mendengar Doa :)

See yaa at the next posting orang-orang baik :')

Sabtu, 17 Maret 2012

London, Please Tell Me that I am Not Dreaming :) #1


Pagi yang cerah. Aku terus melihat daftar barang-barang yang berbaris di buku catatanku kemudian mengambilnya, memasukannya dalam koper kemudian menmberi tanda cek list di sebelah kiri nama barang tersebut. Sudah hampir jam 10 siang, aku harus segera pergi ke minimarket dan membeli beberapa kebutuhan yang belum sempat terbeli karena 2 minggu sebelumnya aku memang sibuk mengurus berbagai macam hal mulai kepanitiaan, bantu penelitian LSM plat merah di depok, dll, termasuk mengurus mulai dari tiket pesawat sampai remeh temeh keberangkatanku ini ke London.

Ya. Tidak ada kesalahan tulisan atau kesalahan siapapun yang membaca tulisan ini. Aku, memang pergi ke London. United Kingdom. Eropa.

Sebutlah saya berlebihan atau apapun, tapi sungguh bagi saya, mahasiswa pas-pas an dari berbagai sisi (kepintaran, kemampuan bahasa inggris, materi) berangkat ke Eropa adalah sungguh hal yang luar biasa. Apalagi berangkat untuk berpartisipasi dalam sebuah kompetisi internasional dan bisa dibilang tanpa keluar uang dalam jumlah yang besar (dicover oleh sponsor dan universitas). Sungguh anugerah! Allah sungguh Maha Kuasa dan Maha Kaya J


Setelah berpamitan dengan orang serumah dan tetangga kanan kiri yang kebetulan ada di depan rumah, aku pun naik taxi menuju KOBER-Margonda tempat dimana aku akan bertemu dengan temanku yang akan diantar memakai mobil oleh keluarganya menuju Bandara Soetta. Dalam taxi, mama yang menemani perjalananku siang itu tidak henti menangis dan terus memeluk sambil memegang tanganku. Sejak aku mulai bisa mengingat hal-hal penting dalam hidupku, aku rasa ini pertama kalinya mama berbuat demikian padaku. Aku mengerti perasaan mama yang sungguh lembut dan mudah menangis ini (sifat ini nular 100 persen ke anaknya :P ). Beliau sungguh takut melepasku pergi selama 12 hari ke tempat yang jaraknya beribu-ribu mil dari rumah. Di tempat asing dimana mama tidak bisa dengan mudah mencariku.. tapi aku yakinkan, bahwa aku akan sebisa mungkin selalu berusaha menjaga diri dan berdoa, dan meminta doa dari mama dan keluarga J Insya Allah, Dia yang akan menjagaku ma J

16.45 WIB. Kami berlima mendorong trolley secepat mungkin ke arah loket check in qatar aiways. Pesawat take off jam 17.40 WIB. Check in di waktu-waktu akhir cukup membuat tangan kami gemetar saat harus mengisi kartu imigrasi sambil mengantri ke loket imigrasi. Konyol banget kalo ketinggalan pesawat ke UK Cuma gara-gara keasyikan nukerin uang di money changer . 
Tapi Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan kami memulai pengalaman luar biasa ini J

Qatar. 
Tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa negara ini menjadi negara pertama di dunia yang bisa aku datangi. Sebuah negara di Asia Barat yang cukup maju karena kekayaan minyaknya layaknya negara-negara Arab lainnya. Aku cukup menikmati 10 jam di Qatar walau semua orang selalu kaget ketika mendengar kami harus transit selama itu. Toh kami bisa tidur di mushola yang nyaman, mendapat 2 kali makan, dan sempat pula berfoto dengan seorang bayi bule yang tampan. Hehehe. Ini buktinya kalau tidak percaya.



Doha International Airport sungguh luas, dari turun pesawat menuju kawasan transit saja harus menggunakan bis dengan waktu tempuh sekitar 10 atau 15 menit. Doha dari atas pesawat sendiri terlihat sangat terang benderang karena lampu-lampu berjejer tidak putus-putusnya di sepanjang jalan utama di kota tersebut.

Dan bandara Doha menjadi saksi benih-benih kekeluargaan kami mulai terasa saling mengisi satu sama lain J


--------------------------------------------------------------------------------------------
Sepanjang perjalanan di pesawat dari Qatar menuju London, aku sangat sering memperhatikan peta digital yang tertera di monitor. Sedang mengudara di atas negara manakah aku? Oh ya, Perancis, oh ya Jerman.. dan oh ya oh ya lainnya J


Perjalanan ini juga menjadi saksi betapa tidak kreatif dan lemahnya kemampuan menggambar saya dan dika (masih lebih kreatif sih dari saya :P) yang terlihat saat kami bermain untuk menebak kata dengan cara menggambarnya. Kalau tidak salah, gambar-gambar di bawah ini menunjukkan kata: surga, galau, ibu, dll, udah lupa lagi karena gambarnya juga ga meaning, haha, but thank you so much dika. Seriously, you’re really really such a nice friend :D
--------------------------------------------------------------------------------------------

Bandara Heathrow, London, sekitar pukul 13.30 waktu setempat.
Kami Cuma bisa tersenyum, tertawa sambil hampir mau melonjak-lonjak ketika pertama kali melangkah di bandara Heathrow, London. Syukur Alhamdulillah ya Allah. 
London, and we made it. 
Masih percaya ga percaya bahkan setelah beberapa hari di London kami masih sangat sering berucap “Kok ini kayak di luar negeri ya?” atau “Ini tuh gue berasa lagi ada di film-film yang selama ini gue tonton”. Dan kata-kata decak kagum lainnya.. J


Setelah melewati petugas imigrasi yang cukup tidak ramah dan deg-degan menunggu nasib luggage akhirnya kami hampir menuju pintu keluar bandara dan baru berucap “Gimana nih cara ke wisma merdeka?” Agak bodoh juga baru mikir ini sekarang. Baru saja Azhar mau beli kartu telepon lokal di London, tahu-tahu seorang Bapak sudah menghampiri kami dan bertanya “dari UI ya?”. Wah, Alhamdulillah ternyata Bapak ini adalah salah satu pegawai dari KBRI yang akan mengantarkan kami ke wisma merdeka tempat kami akan menginap selama di London. Dengan mobil cukup mewah dan berkapaitas luas ini kami menyusuri jalan-jalan di kota London untuk pertama kalinya dalam hidup kami.. 
ini beberapa foto yang diambil dari dalam mobil saat kami menuju wisma siswa merdeka KBRI di daerah Dartmouth Road, London..


 bus tingkat alias double decker, 



 di London sudah banyak banget Restoran halal :)



pertokoan-pertokoan classic but for me it's so coool :D


Ya Allah, sungguh banyak kemudahan yang telah kau berikan pada kami J
--------------------------------------------------------------------------------------------

Wisma siswa merdeka milik KBRI adalah sebuah rumah yang memiliki 6 buah kamar di lantai 2. Penghuni tetap dan pengelolanya adalah dua orang pasangan suai istri mantan mahasiswa S1 FISIP UI yang kini sedang melanjutkan studi di Inggris: Mba Fitri dan Mas Syahrul. Muda-muda begitu mereka sudah punya 3 anak: Si ramah Zaki dan Si dua bocah kembar ngegemesin Wafa dan Wafi.

Aku dan Monic nampaknya mendapat kamar yang paling nyaman yang bisa ditempati tamu di wisma itu. Menghadap langsung ke tepi jalan, lebih luas ruangannya, dan dilengkapi 2 buah penghangat ruangan alias heater. Perfectoooo :D 
Ini pemandangan di depan wisma:



---------------------------------------------------------------------------------------------

Sekitar jam 6.30 malam waktu London..
Mas Sahrul: “Tahan dulu, jangan pada tidur dulu supaya ga jetlag, bilangin juga ke temen-temennya, soalnya kalau ga, entar tengah malem malah kebangun terus ga bisa tidur lagi, malem-malem besoknya juga”
Dika dan Saya: “Oh gitu ya mas, iya nih sepanjang perjalanan kita juga diskusinn terus gimana caranya ngatur tidur supaya ga jetlag, oke deh, thanks ya mas”


Saya pun menuju kamar dan menemukan Monica yang sudah tertidur indah. “Yah si Monic aturan jangan tidur dulu”. Saya pun mencoba beres-beres di kamar sambil menahan kantuk. Berniat menanyakan sesuatu, saya pun ke kamar cowok-cowok dan ternyataaa, menemukan mereka juga sudah tertidur dengan damainya termasuk Dika yang tadi secara langsung denger advicenya mas sahrul. 
Cuma bisa mesem, terus ke kamar, membaringkan diri di atas tempat tidur dan menarik selimut. Good night, London!

*duh, gimana nih, baru hari pertama di London udah segini panjang T.T sambung lagi yaa besok, janjiii deeh :*
See yaa at the next posting wahai dirimu yang sudah membaca, terimakasih J





Selasa, 06 Maret 2012

Move

awan, angin, udara
jalan aspal halus, mobil klasik,
gedung kokoh, minimalis, eksotik,
berjalan cepat atau ada di sisi kanan,
2 keran air, lantai kayu dan karpet,
trotoar, bus tingkat, tube, overground....



for 12 days, i am yours London

now i am here to face my real world
because you just such a beautiful dream,
i am still can't believe that you were not my imagine,

thank you London,
coz i should move right now,
hope we'll meet again soon :)


my friend said that the happiest things in life is free:
smile, laugh, friends, family, memories
and i've got it all :')




lepas dan bebas, let's move.. we'll meet again at the right point :)




you are d best, genk,, will be missing our quality time, i love you :')